PERINGATAN 100 TAHUN

Meski dimakamkan di TMP Kalibata dan diberi gelar Pahlawan Nasional, tidak mudah bagi seseorang untuk mengingat Sjahrir karena tokoh ini jauh dari hingar-bingar popularitas seorang demagog seperti Soekarno. Soekarno begitu memukau massa sehingga sosoknya mudah melekat dalam memoria individual atau kolektif.

BERITA

Rosihan ragu ala SBY ketika menulis Sjahrir PDF Print E-mail
Tuesday, 09 March 2010
JAKARTA (Bisnis.com): Wartawan senior Rosihan Anwar sempat merasakan keragu-raguan ala SBY sebelum memutuskan menerima tawaran untuk menulis buku mengenai Sutan Sjahrir, mantan perdana menteri Indonesia.

Menurut dia, penulis teks buku Sjahrir itu awalnya  adalah sejarawan Taufik Abdullah, yang lalu  mengundurkan diri. Maka Rosihan pun mengambil alih.

"Saya berada dalam keragu-raguan SBY sebelum memutuskan bersedia menulis tentang Sjahrir," katanya, yang langsung disambut gelak tawa sekitar 200 hadirin yang umumnya tokoh-tokoh nasional senior.

Peristiwa itu berlangsung pada acara  peluncuran  buku Sutan Sjahrir, Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan, 1909-1966, di Jakarta hari ini.

Menyebut Sjahrir sebagai "misteri bagi saya", Rosihan mengaku sering tercengang membaca pemikiran-pemikiran Sjahrir. Terkadang dia merasa mengenal dekat tokoh yang ditulisnya itu, ttapi tak jarang dia juga merasa jauh.

Dalam menyusun struktur tulisannya itu Rosihan menggunakan pendekatan story telling, yang cocok dengan tradisi Minangkabau, tempat asal Sutan Sjahrir maupun Rosihan sendiri.

Pada acara peluncuran buku tersebut juga berlangsung renungan tentang pikiran Sjahrir, seorang tokoh sosialis, oleh dosen filsafat Herry Priyono.

Lebih lanjut Rosihan mengatakan buku tentang Sjahrir, setebal 175 halaman itu, ditulisnya dalam 10 hari saja, menggunakan tulisan tangan dan mesin ketik. "Saya tak pakai komputer karena gatek," ujarnya.

Mengenai pemikiran Sjahrir yang tertuang dalam buku tersebut, Rosihan mengatakan pemikiran tokoh-tokoh bangsa di masa lampau relevan untuk menghadapi berbagai masalah bangsa.

"Karena itu penting diterbitkan buku-buku tentang sejarah bangsa dan tokoh-tokohnya guna menghadapi masalah-masalah di masa mendatang lewat ideologi kemanusiaan di tengah kehidupan rakyat yang masih tertindas."

Dia menyoroti ketertinggalan Indonesia dalam berbagai bidang dibandingkan negara-negara tetangga, juga dengan China dan India. Juga mengapa masih banyak koruptor dan masyarakat yang terbelah dua antara kelompok kecil yang berkuasa dan rakyat banyak yang tertindas.

"Tidak banyak yang berubah di bawah matahari Nusantara saat ini dibandingkan dengan jaman kolonial," katanya.

Sumber: www.bisnis.com (Jumat, 05/03/2010 20:55:43 WIB Oleh: Linda Tangdialla)

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 
Next >
Support by pinterhosting.com ©2009 sutansjahrir.com | Disclaimer