formatnews - Jakarta, 6/3 : Pahlawan nasional Sutan Sjahrir dituangkan dalam dua buku untuk memperingati 100 tahun tokoh itu serta sebagai upaya mengingatkan kembali kebesaran dan penghargaan terhadap tokoh pejuang kemerdekaan.
"Saat ini banyak akademisi maupun mahasiswa, apalagi kalangan umum yang tidak tahu siapa itu Sutan Sjahrir. Hal ini sungguh memprihatinkan," kata putri Sutan Sjahrir, Siti Rabyah Parvati Sjahrir di Jakarta, Jumat.
Hal tersebut dikemukakan saat peluncuran buku "Sutan Sjahrir: Demokrasi Sejati, Pejuang Sejati" terbitan Penerbit Buku Kompas dan "Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan," terbitan Kompas Gramedia.
Menurutnya, banyak masyarakat yang bingung siapa itu Sutan Sjahrir dan bahkan tidak bisa membedakan dengan Sutan Takdir Ali Sjahbana.
"Papa seringkali disebut sebagai pengarang Layar Terkembang. Mungkin karena sama-sama memiliki nama depan Sutan, maka sering kali Papa diingat sebagai pengarang buku," katanya.
Dia berharap agar terbitnya dua buku tersebut bisa mengenang dan mengingat lagi keberadaan Sutan Sjahrir sebagai pahlawan nasional, sehingga jasa-jasanya tidak dilupakan masyarakat.
"Saya menyambut terbitnya buku ini sehingga bisa membagi-bagi sejarah sehingga para pemimpin dan wakil rakyat bisa tahu siapa Sutan Sjahrir," katanya.
Buku Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan, yang ditulis oleh H. Rosihan Anwar dan kata pengantar Ignas Kleden, memuat sejumlah foto sejak Sjahrir kecil, kegiatan saat perjuangan kemerdekaan dan saat menjabat perdana menteri, hingga ketika ditahan dan dibuang ke Digul.
Dalam buku setebal 176 halaman itu terdapat pula sejumlah foto saat upaya Sjahrir yang melakukan sejumlah tahap perundingan Linggajati, yang berlangsung 22 Oktober hingga 15 November 1946.
Sementara dalam buku "Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan" bersisi sejumlah tulisan dari sejumlah tokoh nasional yang sudah meninggal maupun masih hidup.
Sejumlah tokoh nasional seperti Adam Malik, Hamengkubuwono IX, Mohammad Hatta, Ali Boediardjo Sjafruddin Prawiranegara dan Mohamad Roem menuangkan tulisannya dalam buku bertebal 469 halaman dan 28 foto.
Buku Mengenang Sjahir adalah kumpulan karangan dari sejumlah kenalan dan mereka yang memahami apa makna julukan Bung Sjahrir.
Sutan Sjahrir ditetapkan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden RI No.76, tanggal 9 April tahun 1966. *ant* Sumber: www.formatnews.com (Sabtu, 6 Maret 2010 | 07:43:36 )
|