|
Puncak peringatan 100 Tahun Sutan Sjahrir ditandai dengan Peluncuran 2 (dua) buah buku mengenai Sutan Sjahrir yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere Jakarta pada hari Jumat petang, 5 Maret 2010. Buku pertama ditulis oleh H. Rosihan Anwar berjudul "Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan", dibuat dalam 2 bahasa, Indonesia dan Inggris. Sedangkan buku kedua merupakan edisi pembaharuan dari edisi sebelumnya, dengan H. Rosihan Anwar sebagai Editor, berjudul "Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan."
 Upik Sjahrir memberikan sambutan Acara yang dimulai pukul 17.00 tersebut dibuka dengan sambutan dari Jacob Oetama, Pemimpin Umum Kelompok Usaha Kompas-Gramedia yang menerbitkan kedua buku tersebut. Acara dilanjutkan dengan penyerahan kedua buku oleh Jacob Oetama kepada kedua putra dan putri Sutan Sjahrir yaitu Kriya Arsyah (Buyung) dan Siti Rabyah Parvati (Upik). Penyerahan buku berikutnya dilakukan oleh Buyung dan Upik kepada 10 orang yang terlibat dalam pembuatan buku maupun yang terkait dengan sejarah antara lain H. Rosihan Anwar, Sabam Siagian, Taufik Abdullah, Ignas Kleden, guru Sejarah SMA 8 Jakarta, dan Jaap Erkelens. Yang disebut terakhir ini adalah warga Belanda yang ikut menulis buku yang pertama. Sesudah penyerahan buku, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Siti Rabyah Parvati 'Upik' Sjahrir yang menyampaikan rasa haru, bangga, dan bahagia yang bercampur jadi satu dalam peringatan 100 tahun kelahiran ayahanda tercintanya. Upik juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah berjasa mewujudkan kegiatan peringatan ini. Orasi dari Rosihan Anwar yang merupakan acara setelah sambutan Upik, disampaikan dengan menarik. Wartawan senior yang berusia hampir 88 tahun tersebut berkisah tentang proses penulisan buku "Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan", yang ditulis dalam waktu hanya 10 hari di bulan Ramadhan 1430 H atau bulan September 2009. Naskah tulis tangan karena katanya gaptek (gagap teknologi) itu dipindahkan ke komputer oleh cucunya, setelah itu diedit oleh editor yang sangat teliti yaitu Sabam Siagian, dan dikirimkan ke Jaap Erkelens untuk diproses lebih lanjut.  Dua buku yang diluncurkan. Dua orasi terakhir adalah dari Romo Herry Priyono yang secara filosofis mengutarakan bagaimana sikap Sjahrir yang diketahuinya lewat bahan bacaan yang dipelajarinya, serta dari Jaap Erkelens yang menjawab pertanyaan yang bisa jadi muncul dari masyarakat adalah posisinya sebagai orang Belanda yang dulunya menjajah Indonesia, sekarang malah ikut menulis buku tentang pejuang Indonesia yang melawan Belanda. Tampak hadir dalam acara tersebut para sahabat Sutan Sjahrir, anggota Panitia Peringatan 100 Tahun Sutan Sjahrir, keluarga dan kerabat, serta kalangan generasi yang lebih muda seperti Hendardi dan Fadjroel Rahman. Acara ditutup sekitar pukul 19.00 dan diakhiri dengan ramah-tamah dan makan malam bersama.(wp)
|