PERINGATAN 100 TAHUN

Meski dimakamkan di TMP Kalibata dan diberi gelar Pahlawan Nasional, tidak mudah bagi seseorang untuk mengingat Sjahrir karena tokoh ini jauh dari hingar-bingar popularitas seorang demagog seperti Soekarno. Soekarno begitu memukau massa sehingga sosoknya mudah melekat dalam memoria individual atau kolektif.

BERITA

Perundingan Linggarjati: Tonggak Penting Hub Dipl Indonesia-Belanda PDF Print E-mail
Thursday, 08 October 2009

Rakyat Merdeka Selasa, 29 September 2009, 19:25:33 WIB

Laporan: A. Supardi Adiwidjaya

Den Haag, RMOL.
KBRI Den Haag bekerjasama dengan Stichting Vrienden van Linggadjati dan Stichting Indisch Erfgoed pada hari Senin (28/9) menggelar Seminar dan Pameran dengan tema "Linggarjati Conference: Bridge to the Future of Indonesia-Netherlads Relations". Sedang pameran dan juga pemutaran film dokumenter tentang Sejarah Diplomasi Indonesia (1945-1949) berlangsung dua hari, sampai hari Selasa (29/9).

Acara seminar dan pameran tersebut digelar di Aula Koninklijke Bibliotheek (Perpustakaan Kerajaan), di Prins Willem Alexanderhof 5, Den Haag.  Seminar dibuka oleh Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda Junus Effendi Habibie dan dilanjutkan dengan pidato Andri Hadi, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Depertemen Luar Negeri RI. Mantan Menlu Belanda Bernard Bot yang dijadwalkan hadir ternyata berhalangan. 

Image
Siti Rabyah Parvarti Sjahrir (anak dari Sutan Sjahrir)
Adapun para pembicara dalam seminar tentang Perundingan Linggarjati, yang diselenggarakan pada Senin (28/9) dalam dua sesi tersebut adalah: Hans van Baalen (anggota Parlemen Uni Eropa) dengan tema Enhancing People to People Contact; Martin Berendse (Direktur Arsip Nasional Belanda) "Perundingan Linggarjati dalam Arsip Nasional Belanda"; Drs Frederick Erens M.A (sejarawan, anggota Indies Heritage Foundation/Apeldoorn) membawakan tema "Sutan Sjahrir dan Linggarjati"; Dr Rusdhy Hoesein - "Peranan Sukarno-Hatta dalam Perundingan Linggarjati"; Yayan Daryan (Kasubdir Penerbitan Naskah Sumber Arsip dan Arsip) "Perundingan Linggarjati dalam Arsip Nasional Indonesia"; dan Siti Rabyah Parvarti Sjahrir (anak dari St. Sjahrir) "My Personal Memory of My Father"

Tampak hadir dalam seminar tersebut Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris Yuri Octavian Thamrin dan Dubes RI untuk Kerajaan Belgia, Uni Eropa dan Keharyapatihan Luksemburg Nadjib Riphat Kesoema beserta para undangan lainnya.  Dalam sambutannya Dubes Junus Effendi Habibie menekankan pentingnya peranan Perundingan Linggarjati dalam konteks hubungan ke depan diplomasi antara Indonesia dan Belanda. Untuk pertama kalinya dalam sejarah dalam perundingan Linggarjati ketika itu pemerintah kolonial Belanda terpaksa mengakui de facto keberadaan Indonesia dan secara resmi mau duduk berunding dengan pemerintah RI. "Perundingan Linggarjati merupakan tonggak sejarah yang sangat penting karena pada perundingan tersebut secara de facto eksistensi RI diakui oleh Belanda, yang untuk pertama kalinya mau duduk berunding sejajar dengan Pemerintah Indonesia," ujar Fannie Habibie.

Sedang Andri Hadi, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Depertemen Luar Negeri RI, ketika bincang-bincang dengan Rakyat Merdeka Online (Senin, 28/9) di sela-sela waktu rehat menyatakan, "Saya kira, ini merupakan event yang sangat baik sekali. Dalam konteks bahwa kadang-kadang anak-anak muda kita sekarang ini tidak begitu mengenal sejarah negerinya dengan baik. Tetapi di sisi lain, di luar negeri malah sejarah Indonesia banyak dipelajari oleh orang-orang asing, seperti misalnya di Belanda ini." Tapi yang jelas, lanjut Andri Hadi, bahwa dengan seminar ini kita ingin membuka wawasan yang lebih dari pada para sejarawan asing maupun kalangan orang awam bahwa dalam konteks Linggarjati itu, perjuangan kita untuk mencapai kemerdekaan itu adalah dilakukan dengan perjuangan fisik, militer dan juga perjuangan diplomasi.

Andri Hadi berpendapat, Perundingan Linggarjati mempunyai arti penting bagi diplomasi Indonesia sebagai the cornerstone (batu loncatan). Itu fundamental sekali bahwa permulaan perjuangan diplomasi Indonesia itu lewat Linggarjati. Karena di situ kita berdiplomasi buat meyakinkan bukan saja dalam konteks perundingan dengan Belanda, tetapi diplomasi buat meyakinkan dunia bahwa the first (yang pertama-tama) Indonesia itu eksis, Indonesia itu ada. Yang kedua adalah bahwa Belanda harus mengakui Indonesia sebagai suatu negeri yang nyata keberadaannya. Menurut Andri Hadi, mungkin orang tidak begitu meyakini bahwa langkah yang dilakukan oleh Sukarno, Hatta dan Syahrir itu, pada intinya, Perundingan Linggarjati merupakan strategi dalam diplomasi ketika itu.

Cukup banyak orang yang bertanya, mengapa kok mereka mau menerima uni dengan Belanda. Mengapa kok mereka mau menerima de facto, yang hanya Sumatra, Jawa dan Madura. Padahal mereka itu sangat memahami, bahwa yang sangat penting pada waktu itu obyektif adalah masalah kemerdekaan yang meliputi wilayah Hindia Belanda. Dalam konteks pada waktu itu kita mendeklarasi kemerdekaan Indonesia itu memang sangat baik sekali untuk membakar semangat masyarakat dan tujuan kita itu ke sana. Tapi untuk pelaksanaannya, implementasinya juga perlu dilakukan melalui negosiasi," papar Andri Hadi. Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Dubes Junus Effendi Habibie itu benar, yakni perjuangan bersenjata ketika itu, di bawah itu membuat pressure (tekanan) terhadap pemerintah Belanda, dan perjuangan diplomasi di atas itu juga membuat solusi untuk mencapai kemerdekaan itu lebih elegan.

Dalam makalah-makalah, yang diutarakan dalam seminar, masing-masing pembicara tampak sepakat tentang peranan besar St Sjahrir dalam Perundingan Linggarjati. Sedang terselenggaranya Perundingan Linggarjati itu sendiri merupakan tonggak penting dalam hubungan diplomasi antara RI dengan pemerintah Belanda. Dan juga dalam sesi tanya jawab pun tidak ada peserta seminar yang menyanggahnya. [asa]

Keterangan foto:
Siti Rabyah Parvarti Sjahrir (anak dari Sutan Sjahrir).

Comments
Add New
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Tuesday, 13 October 2009 )
 
< Prev   Next >
Support by pinterhosting.com ©2009 sutansjahrir.com | Disclaimer