|
Ditjen IDP dan KBRI Den Haag gelar Seminar & Pameran Linggarjati |
|
|
|
|
Thursday, 08 October 2009 |
Konferensi Linggarjati yang berlangsung tahun 1946 merupakan salah satu bukti betapa pentingnya perjuangan diplomasi dalam proses awal pembetukan bangsa, sehingga secara de facto kedaulatan negara Indonesia diakui secara internasional, demikian salah satu butir yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik (IDP), Bapak Andri Hadi, dalam sambutan pembukaan Seminar dan Pameran Konferensi Linggarjati yang berlangsung di Auditorium Koninlijke Bibliotheek/KB (Perpustakaan Kerajaan) Belanda tanggal 28 September 2009. Seminar dan pameran ini sekaligus juga diselenggarakan untuk mengenang jasa-jasa Pahlawan Nasional Sutan Sjahrir yang merupakan pelaku utama dalam Konferensi Linggarjati.
Dirjen IDP juga menekankan antara lain bahwa tujuan dari kegiatan semacam seminar ini bukan untuk menguak lembaran pahit sejarah hubungan Indonesia-Belanda dan saling menyalahkan masa lampau, namun sejarah itu hendaknya harus dipahami oleh kedua negara secara dewasa karena senantiasa terdapat semangat perdamaian dan kerjasama dalam sejarah RI-Belanda, yang kiranya dapat terus dipupuk dan dikembangkan untuk kepentingan peningkatan hubungan bilateral di masa mendatang.
Sementara itu, Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda, Bapak J.E. Habibie, dalam sambutannya menggarisbawahi peran sentral Sutan Sjahrir yang memiliki latar belakang studi di Leiden, serta mitranya dari Belanda, Mr. Willem Schermerhorn, yang dianggap sangat visioner dan senantiasa mengedepankan semangat perdamaian dan dialog dalam mencari solusi dari pertikaian politik yang terjadi antara Indonesia-Belanda. Selain itu, Dubes Habibie juga menegaskan bahwa seminar dan pameran ini akan ditindaklanjuti dengan kegiatan lainnya sehingga arti penting Konferensi Linggarjati dan pelakunya sebagai salah satu capaian penting dalam sejarah bangsa dapat dipahami lebih baik oleh rakyat Indonesia dan Belanda, khususnya para generasi muda. Seminar dan Pameran yang bertema A Bridge to the Future of Bilateral Relations between Indonesia and the Netherlands ini terselenggara berkat kerjasama KBRI Den Haag dengan Departemen Luar Negeri RI c.q. Ditjen IDP, Arsip Nasional RI (ANRI), serta sejumlah instansi dan LSM Belanda. Seminar mengahadirkan pembicara dari berbagai latar belakang guna memberikan sudut pandang yang lebih luas dan berwawasan ke depan. Pembicara dalam seminar adalah Bapak Rushdy Hoesein (Sejarawan); Mr. Hans van Baalen (anggota Parlemen UE), Mr. Martin Berendse (Direktur Arsip Nasional Belanda); Mr. Frederik Erens (Sejarawan), Ibu Siti Parvati Sjahrir (Putri Sutan Sjahrir), dan Bapak Yayan Daryan (ANRI).
Seminar diikuti oleh sekitar 150 peserta dari berbagai kalangan baik dari Indonesia maupun Belanda di antaranya Dubes RI Brussel Bapak Nadjip Riphat K., Dubes RI London Bapak Yuri Thamrin, sejumlah pejabat Kemlu dan Kementerian Pendidikan & Budaya Belanda, masyarakat madani, jurnalis Indonesia dan Belanda, dosen, pelajar dan mahasiswa, serta sejumlah pihak yang memiliki ikatan sejarah dan emosional dengan peristiwa Konferensi Linggarjati.
Paparan dan diskusi selama seminar mendapat apresiasi yang tinggi dari para peserta seminar karena sejumlah topik dapat dikembangkan untuk mendorong riset lebih jauh mengenai Konferensi Linggarjati dan ketokohan Sutan Sjahrir.
Sementara itu, pameran Linggarjati (8-29 September 2009) yang menampilkan sejumlah panel, dokumen orisinil dan photo yang bersumber dari ANRI, Nationaal Archiefs Nederland; serta Stichting Indisch Erfgoed dan Stichting Vrienden van Linggarjati, juga mendapt banyak perhatian baik dari dari para peserta maupun para pengunjung KB dan Nationaal Archiefs Nederland, tempat di mana pameran dilangsungkan.
|
|
Last Updated ( Thursday, 08 October 2009 )
|