Meski dimakamkan di TMP Kalibata dan diberi gelar Pahlawan Nasional, tidak mudah bagi seseorang untuk mengingat Sjahrir karena tokoh ini jauh dari hingar-bingar popularitas seorang demagog seperti Soekarno. Soekarno begitu memukau massa sehingga sosoknya mudah melekat dalam memoria individual atau kolektif.
Diantara para trio yang sama-sama berkiprah dalam dunia politik (Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung “Kecil” Sjahrir), Sutan Sjahrir lebih berperan sebagai intelektual yang berpijak pada cara berpolitik yang memaknai kekuasaan sebagai alat pencapaian cita-cita, sebuah politics of meaning atau politik pemaknaan. Pragmatisme bukan sesuatu yang terlalu akrab dengan dirinya. Semua ini menyebabkan Sjahrir mudah tenggelam dalam ingatan sejarah bangsa ini, lapis demi lapis, dari generasi ke generasi. Pelupaan bisa saja terjadi secara tidak disengaja, sebagai suatu proses sosial biasa, karena jarak yang panjang, atau karena waktu yang lama.
Tanggal 5 Maret 2009 persis 100 tahun kelahiran Sutan Sjahrir, anak Padang Panjang (Sumatera Barat) yang menjadi Perdana Menteri Indonesia pertama periode 1945-1947, yang meninggal di Zurich, Switzerland, 9 April 1966.
Peringatan 100 tahun Sutan Sjahrir berupa rangkaian kegiatan (diskusi, pameran, sayembara, penerbitan ulang buku-bukunya) yang bertujuan untuk:
- memperkenalkan kembali Sutan Sjahrir sebagai seorang pemimpin nasional ke publik Indonesia masa kini, serta
- mendorong dialog tentang Sjahrir dan relevansi cara berpolitiknya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia abad ke-21 ini.***